Ikhtisar Pasar Tenaga Kerja Indonesia

Pengantar

Blog ini akan menghadirkan seri diskusi pasar tenaga kerja dan ekonomika pendidikan di Indonesia dengan merangkum tren nasional tentang topik terkait. Tulisan-tulisan di seri ini tidaklah final karena penulis berupaya untuk terus memperbarui statistik dan pembahasan seiring terbitnya observasi atau data publik baru. Modul wbopendata yang terintegrasi dengan STATA memberikan kesempatan kepada penulis untuk terus memperbarui analisis secara aberkala. Penulis membuka diskusi dan mengundang masukan pembaca untuk setiap tulisan di blog ini. Diskusi, masukan, dan kritik pembaca akan penulis gunakan sebagai referensi untuk pembaruan tulisan.

Sebagian besar konten tulisan dalam seri ini adalah analisis tren. Memahami tren agregat merupakan salah satu aspek kunci dalam analisis ekonomi. Analisis tren menyamarkan variasi dalam data dan variasi seringkali penting untuk memahami fakta di lapangan. Namun demikian, analisis tren menjelaskan dinamika jangka panjang suatu variabel. Selain itu, analisis tren menjelaskan perubahan pola pergerakan suatu variabel karena suatu peristiwa, kebijakan, maupun perubahan rezim pemerintahan. 

Sebagai catatan, penulis tidak bertujuan untuk menguji hipotesis dan melakukan estimasi dalam tulisan ini. Oleh karena itu, penulis berhati-hati untuk tidak membuat kesimpulan dari berbagai temuan dalam analisis tren. Sebaliknya, penulis menyusun pertanyaan terbuka untuk memotivasi penelitian ilmiah.

Tulisan pertama di seri diskusi ini menyajikan dan membahas tren nasional tentang pasar tenaga kerja di Indonesia.

Tren Pasar Tenaga Kerja Indonesia

Pertumbuhan Populasi Indonesia

Populasi Indonesia terus mengalami peningkatan dengan rata-rata pertumbuhan 1.43 persen sejak tahun 1990 (Gambar 1). Namun demikian, pertumbuhan populasi terus mengalami penurunan. Pertumbuhan populasi turun dari 1,80 persen di tahun 1990 ke 1,38 persen di tahun 2010, 1,32 persen di tahun 2010, dan 1,22 persen di tahun 2015.

population_laborforce

Gambar 1. Tren populasi dan angkatan kerja Indonesia, 1990-2015

Populasi usia kerja juga mengalami kenaikan yang cukup berarti dari 115 juta individu di tahun 1990 menjadi 186 juta individu di tahun 2015. Pertumbuhan populasi usia kerja melebihi 2 persen antara tahun 1990-2000 namun turun pasca 2000 dengan pertumbuhan rata-rata tahunan sebesar 1,61 persen. Terlepas dari pertumbuhan yang melambat, proporsi populasi usia kerja terhadap total populasi mengalami tren peningkatan. Proporsi populasi usia kerja meningkat dari 64 persen di tahun 1990 menjadi 71 persen di tahun 2010 dan 72 persen di tahun 2015. Berbagai statistik diatas menjelaskan bahwa perekonomian Indonesia menikmati bonus demografi.

Rasio ketergantungan adalah rasio antara populasi usia kurang dari 15 dan lebih dari 64 dan populasi usia 15-64 tahun. Gambar 3 menunjukkan bahwa rasio ketergantungan di Indonesia mengalami tren penurunan sejak tahun 1970-an. Rasio ketergantungan anak juga mengalami tren penurunan yang paralel. Namun demikian, rasio ketergantungan orang tua meningkat. Kedua statistik ini mencerminkan populasi yang cenderung menua. Sebuah laporan menunjukkan bahwa umur median meningkat dari 21,3 di tahun 1990 menjadi 28,1 di tahun 2015 (Adioetomo dan Mujahid, 2014).

dependencyratio

Gambar 3. Rasio Ketergantungan Indonesia, 1980-2015

Angkatan Kerja Indonesia

Bagian dari populasi yang terlibat langsung dalam pasar tenaga kerja adalah individu dalam angkatan kerja. Mereka adalah individu usia kerja yang bekerja, berhenti bekerja sementara, dan menganggur dalam suatu perekonomian pada suatu periode. Angkatan kerja Indonesia terus meningkat dan mencapai 124 juta individu pada tahun 2014. Sebelum krisis ekonomi, angkatan kerja Indonesia tumbuh dengan rata-rata 3 persen. Rata-rata pertumbuhan angkatan kerja turun menjadi 1,66 persen pasca tahun 1999. Angka ini mencerminkan kenaikan angkatan kerja sebesar 1,8 juta setiap tahunnya.

lfgender

Gambar 4. Angkatan kerja berdasarkan gender, 1990-2014

Angkatan kerja pria mencapai 77 juta individu di tahun 2014 sedangkan angkatan kerja perempuan mencapai 47 juta individu (Gambar 4). Angkatan kerja pria mencakup 62 persen angkatan kerja Indonesia di tahun 2014 dan proporsi ini cukup stabil sejak tahun 1990. Rata-rata pertumbuhan tahunan angkatan kerja pria dan wanita mencapai 1,6 persen.

Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) Indonesia relatif stabil pada angka 69-70 persen pasca krisis ekonomi 1998. Stabilnya TPAK Indonesia pada satu dekade terakhir merefleksikan angkatan kerja Indonesia yang relatif muda. Tingkat partisipasi angkatan kerja Indonesia mengalami penurun cukup besar pada masa krisis ekonomi. Tingkat partisipasi angkatan kerja turun dari 69,5 persen di tahun 1996 menjadi 67,2 persen di tahun 1998. Namun demikian, TPAK pulih ke angka 69 persen pada tahun 1999.

lfpr

Gambar 5. Rasio partisipasi angkatan kerja, 1990-2014

Angkatan kerja berpendidikan sekolah dasar mendominasi angkatan kerja Indonesia dengan proporsi 60 persen di tahun 2013 (Gambar 6). Angkatan kerja berpendidikan sekolah menengah (pertama dan atas) mencakup 27 persen dari angkatan kerja Indonesia, sedangkan angkatan kerja berpendidikan tinggi hanya mencakup 8 persen dari angkatan kerja Indonesia. Proporsi angkatan kerja berpendidikan sekolah dasar meningkat cukup tajam dari 54 persen menjadi 64 persen di tahun 2009. Statistik ini menjelaskan bahwa lebih dari setengah angkatan kerja Indonesia berketerampilan rendah. Sebagai perbandingan, angkatan kerja berpendidikan sekolah dasar di Thailand dan Malaysia secara berurutan adalah 42 persen dan 32 persen di tahun 2013. 

laborforce_education

Gambar 6. Angkatan kerja berdasarkan tingkat pendidikan tertinggi, 1994-2013

Lapangan kerja masih terkosentrasi di pulau Jawa pada tahun 2016 (Gambar 7). Secara khusus, jumlah individu bekerja di Jawa melebihi angka 65 juta atau lebih dari setengah jumlah individu bekerja di Indonesia.

employmentregional

Gambar 7. Jumlah individu bekerja antar provinsi, 2016

Pengangguran

Menurut BPS, pengangguran meliputi individu di angkatan kerja yang tidak memiliki pekerjaan karena sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan suatu usaha, atau tidak mencari pekerjaan karena pesimistik, dan individu di angkatan kerja yang memiliki pekerjaan namun belum mulai bekerja.

Pengangguran di Indonesia meningkat dari 2,8 persen di tahun 1992 menjadi 11,2 persen di tahun 2004 (Gambar 7). Pasca 2004, pengangguran menurun ke angka 7,9 pesen di tahun 2009 dan 6,2 persen di tahun 2014. Penurunan ini cukup besar karena penurunan pengangguran sebesar 1 persen mencerminkan terciptanya lapangan kerja untuk 1-1,1 juta orang. Statistik yang perlu menjadi perhatian adalah tingginya pengangguran diantara remaja yang mencapai 21,8 persen di tahun 2014. Belum ada riset khusus yang meneliti faktor penyebab tingginya pengangguran remaja. Namun demikian, sebuah laporan menjelaskan bahwa kurang terampilnya remaja membatasi lapangan kerja yang remaja dapat akses (Hasoloan, 2013).

totalunemployment

Gambar 7. Pengangguran di Indonesia, 1991-2014

Secara historis, pengangguran perempuan lebih tinggi dibandingkan pengangguran pria (Gambar 8). Namun demikian, kesenjangan pengangguran pria dan wanita (lapuan) mengalami perubahan antar rezim. Sebelum krisis ekonomi, kesenjangan pengangguran lapuan berkisar antara 0.8 sampai dengan 1,6 persen. Pasca 2000, kesenjangan pengangguran lapuan meningkat cukup tajam dan mencapai 4,5 persen di tahun 2005. Namun demikian, kesenjangan pengangguran lapuan cenderung menurun setelah tahun 2005.

genderunemployment

Gambar 8. Pengangguran berdasarkan gender, 1991-2014

Pertanyaan

Penulis berharap tulisan diatas memantik pertanyaan-pertanyaan dari pembaca. Beberapa pertanyaan yang penulis rangkum antara lain:

  1. faktor apa yang dapat menjelaskan kesenjangan pengangguran antara pria dan perempuan?
  2. Mengapa kesenjangan pengangguran pria dan wanita melebar pasca krisis ekonomi 1998?
  3. Faktor apa yang mendorong tingginya pengangguran diantara remaja Indonesia?  
  4. Mengapa pengangguran Indonesia menurun sejak tahun 2005?
  5. Apakah konsentrasi lapangan kerja di Indonesia berubah antar waktu?

Referensi

Adioetomo, S.M. dan Mujahid, G., 2014, Indonesia on the Threshold of Population Ageing, UNFPA Indonesia.

Azevedo, J.P., 2011, “wbopendata: Stata module to access World Bank
databases,” Statistical Software Components S457234, Boston College
Department of Economics.

Hasoloan, M.A., 2013, “Youth Employment in Indonesia,” Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Data

Penulis menggunakan data dari wbopendata Bank Dunia. Pembaca dapat menghubungi penulis untuk mendapatkan lembar kerja (do-files ) STATA.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s